Fatharani, Ahyaita Silmi (2025) REPRESENTASI RELASI KUASA DALAM FILM PENYALIN CAHAYA (PHOTOCOPIER). Other thesis, Universitas Siliwangi.
COVER.pdf
Download (46kB)
PENGESAHAN.pdf
Download (260kB)
PERNYATAAN.pdf
Download (241kB)
ABSTRACT.pdf
Download (92kB)
ABSTRAK.pdf
Download (109kB)
KATA PENGANTAR.pdf
Download (118kB)
DAFTAR ISI.pdf
Download (13kB)
DAFTAR TABEL.pdf
Download (7kB)
DAFTAR GAMBAR.pdf
Download (15kB)
BAB 1.pdf
Download (194kB)
BAB 2.pdf
Download (309kB)
BAB 3.pdf
Download (218kB)
BAB 4.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
BAB 5.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (16kB)
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (265kB)
Abstract
Film adalah media yang sangat efektif untuk berkomunikasi. Selain
berfungsi sebagai media hiburan, film juga dapat berfungsi sebagai media yang
mendidik masyarakat. Seperti hal nya terdapat pada sebuah film dengan judul
“Penyalin Cahaya (Photocopier)”, di mana terdapat relasi kuasa yang menjadi
masalah besar pada konflik di dalamnya dapat tersampaikan kepada para penonton.
Penelitian yang dilakukan berjudul “Representasi Relasi Kuasa dalam Film
Penyalin Cahaya”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi relasi
kuasa yang terdapat dalam gambaran sebuah film yang diperankan oleh para aktor
pada film Penyalin Cahaya. Teori relasi kuasa yang dikemukakan oleh Michel
Foucault menjadi sumber acuan metode yang akan digunakan dalam melakukan
analisis pada penelitian ini dengan menggunakan teknik semiotika Roland
Barthens. Metode penelitian deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis
representasi relasi kuasa yang terdapat pada film Penyalin Cahaya. Teknik
pengumpulan data menggunakan teknik studi pustaka, dan untuk menganalisis data
menggunakan 4 acuan dari teori Michel Foucault yaitu legitimasi, struktur, disiplin,
dan seksualitas. Dari keempat acuan tersebut akan dikaitkan dengan beberapa scene
yang sudah terpilih. Film Penyalin Cahaya mencerminkan relasi kuasa dalam
perspektif Michel Foucault, khususnya legitimasi, stuktur, seksualitas, dan
disciplinary power. Kekuasaan dilegitimasi melalui wacana yang menyalahkan
korban, sementara normalisasi membuat kekerasan seksual dianggap lumrah.
Seksualitas dikendalikan melalui pengawasan sosial dan stigma terhadap
perempuan. Institusi kampus berperan sebagai ruang pengawasan yang
memperkuat hierarki sosial. Film ini menampilkan bagaimana kekuasaan bekerja
melalui wacana dan normalisasi yang membungkam individu tanpa paksaan
langsung. Karakter Sur membalik fungsi pengawasan untuk mengungkap
kebenaran, menjadikan pengetahuan dan tubuhnya sebagai alat perlawanan
terhadap narasi dominan, hal ini menunjukkan bahwa resistensi muncul dari dalam
relasi kuasa.
Kata kunci: Penyalin Cahaya, Relasi Kuasa, Kuasa, Semiotika
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | J Political Science > JA Political science (General) |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Politik |
| Depositing User: | irma sri katon |
| Date Deposited: | 20 Nov 2025 06:09 |
| Last Modified: | 20 Nov 2025 06:09 |
| URI: | https://repositori.unsil.ac.id/id/eprint/1469 |
