Ananda, Shinta Asti (2025) PERKEMBANGAN KEBAYA ENCIM DI BATAVIA TAHUN 1911-1945. Other thesis, Universitas Siliwangi.
1. COVER.pdf
Download (179kB)
2. LEMBAR PENGESAHAN.pdf
Download (258kB)
3. LEMBAR KE ASLIAN.pdf
Download (428kB)
4. PERNYATAAN.pdf
Download (215kB)
5. MOTTO.pdf
Download (244kB)
6. ABSTRAK.pdf
Download (251kB)
7. KATA PENGANTAR.pdf
Download (140kB)
8. UCAPAN TERIMA KASIH.pdf
Download (285kB)
9. DAFTAR ISI.pdf
Download (192kB)
10. BAB 1.pdf
Download (585kB)
11. BAB 2.pdf
Download (634kB)
12. BAB 3.pdf
Download (337kB)
13. BAB 4.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (505kB)
14. BAB 5.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (182kB)
15. DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (277kB)
16. LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
17. DAFTAR RIWAYAT HIDUP.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (208kB)
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan kebaya Encim di Batavia pada masa kolonial Belanda tahun 1911–1945. Tujuan tersebut mencakup tiga hal, yaitu menelusuri latar sosial budaya Tionghoa Peranakan dan akulturasi busana di Batavia, mengidentifikasi karakteristik awalnya, serta mengkaji proses perkembangannya selama periode tersebut. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi tahapan pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, analisis arsip kolonial, wawancara, dan kajian literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebaya Encim merupakan hasil akulturasi budaya antara komunitas Tionghoa, pribumi, dan Belanda. Pada awalnya, kebaya Encim memiliki bentuk longgar, tidak mengikuti lekuk tubuh, menggunakan bahan ringan seperti katun mori dan voile, serta berwarna netral dengan bordir sederhana. Seiring waktu dan pengaruh modernisasi pasca runtuhnya kekaisaran Tiongkok, kebaya ini mengalami perubahan bentuk menjadi lebih ramping, menggunakan bahan mewah seperti organdi dan sutra, serta dihiasi bordir motif flora-fauna yang sarat makna simbolik. Kebaya Encim tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga sebagai simbol identitas, status sosial, dan ekspresi gender perempuan Tionghoa Peranakan. Pada masa pendudukan Jepang, penggunaannya mengalami penyesuaian, namun tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya di Batavia.
Kata Kunci: Perkembangan, Kebaya Encim, Batavia.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | D History General and Old World > D History (General) |
| Divisions: | Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Sejarah |
| Depositing User: | dewi dewi dewi |
| Date Deposited: | 26 Jan 2026 07:21 |
| Last Modified: | 26 Jan 2026 07:21 |
| URI: | https://repositori.unsil.ac.id/id/eprint/4618 |
