Hamdani, Sansan (2025) WABAH SAMPAR DI GARUT TAHUN 1928-1935. Other thesis, Universitas Siliwangi.
1. COVER.pdf
Download (163kB)
2. LEMBAR PENGESAHAN.pdf
Download (185kB)
3. LEMBAR PENGUJI.pdf
Download (213kB)
4. LEMBAR PERNYATAAN.pdf
Download (239kB)
5. ABSTRAK & ABSTRACT.pdf
Download (207kB)
6. KATA PENGANTAR.pdf
Download (140kB)
7. UCAPAN TERIMA KASIH.pdf
Download (145kB)
8. DAFTAR-DAFTAR.pdf
Download (257kB)
9. BAB 1.pdf
Download (381kB)
10. BAB 2.pdf
Download (268kB)
11. BAB 3.pdf
Download (280kB)
12. BAB 4.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (324kB)
13. BAB 5.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (209kB)
14. DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (237kB)
15. LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Penelitian ini mengkaji wabah sampar di Garut pada tahun 1928–1935 dengan fokus pada penyebab penyebaran, kondisi masyarakat, serta respon pemerintah kolonial dan masyarakat lokal dalam menghadapinya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan tahapan, pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Penyebaran wabah dipengaruhi oleh buruknya sanitasi dan higienitas lingkungan, tingginya mobilitas penduduk melalui jalur transportasi seperti kereta api, serta faktor iklim pegunungan Garut yang sejuk dan lembap, yang mendukung kelangsungan hidup vektor penyakit, yakni kutu dan tikus. Wabah meluas ke sejumlah wilayah seperti Tjiledoegweg, Papandajanweg, Cimaragas, dan Malangbong, yang menjadi lokasi kasus sampar. Kondisi masyarakat Garut di tengah wabah ditandai oleh terganggunya aspek sosial, ekonomi, dan politik. Ketakutan massal merebak, aktivitas perdagangan menurun, hotel banyak yang tutup dan masyarakat cenderung mengisolasi diri. Kasus kematian tokoh medis seperti dr. Slamet Atmosoediro dan pejabat daerah Raden Kanduruan Kertanegara memperdalam krisis kepercayaan terhadap pengobatan modern. Munculnya resistensi terhadap rumah sakit, penggunaan pengobatan tradisional, serta praktik spiritual seperti tolak bala menjadi bagian dari respons masyarakat terhadap ketidakpastian wabah. Kasus-kasus sampar yang terus bermunculan memperkuat atmosfer kepanikan dan krisis sosial di berbagai lapisan. Pemerintah kolonial merespon dengan berbagai kebijakan seperti pembentukan tim medis, penerapan karantina di wilayah terjangkit, distribusi vaksin, dan upaya pembasmian tikus. Namun, kebijakan tersebut tidak sepenuhnya efektif karena keterbatasan tenaga kesehatan, infrastruktur, serta penolakan dari sebagian masyarakat.
Kata Kunci: Wabah Sampar, Garut, Higienitas
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | D History General and Old World > D History (General) |
| Divisions: | Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Sejarah |
| Depositing User: | user1 user1 user1 |
| Date Deposited: | 03 Mar 2026 02:52 |
| Last Modified: | 05 Mar 2026 02:43 |
| URI: | https://repositori.unsil.ac.id/id/eprint/6302 |
