WINARNI, WIDYA (2025) RISIKO PRODUKSI CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) DI KOTA TASIKMALAYA (Kasus di Agro Digital Tasikmalaya). Other thesis, Universitas siliwangi.
1 COVER.pdf
Download (173kB)
2 PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME.pdf
Download (529kB)
3 LEMBAR PENGESAHAN.pdf
Download (328kB)
4 ABSTRAK.pdf
Download (226kB)
5 PRAKATA.pdf
Download (181kB)
6 DAFTAR ISI.pdf
Download (225kB)
7 DAFTAR TABEL.pdf
Download (180kB)
8 DAFTAR GAMBAR.pdf
Download (178kB)
9 DAFTAR LAMPIRAN.pdf
Download (177kB)
10 BAB I.pdf
Download (267kB)
11 BAB II.pdf
Download (306kB)
12 BAB III.pdf
Download (355kB)
13 BAB IV.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (229kB)
14 BAB V.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (454kB)
15 BAB VI.pdf
Download (223kB)
16 DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (202kB)
17 LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
Abstract
Cabai rawit merupakan salah satu jenis komoditas hortikultura unggulan nasional. Permintaan akan cabai rawit terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Risiko produksi dalam agribisnis adalah ketidakpastian yang dihadapi oleh petani ataupun pelaku agribisnis terkait dengan hasil produksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis risiko produksi cabai rawit di Agro Digital Tasikmalaya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan data primer melalui wawancara kepada manajer budidaya dan pegawai lahan, serta data sekunder. Alat analisis yang digunakan yaitu House of Risk (HOR) Fase 1 untuk mengidentifikasi sumber risiko serta mendapatkan tingkatan sumber risiko serta HOR Fase 2 untuk mengetahui strategi penanganan risiko. Hasil HOR Fase 1 menunjukkan terdapat sembilan sumber risiko prioritas antara lain, curah hujan yang tinggi selama musim tanam, serangan hama ulat buah, serangan penyakit antraknosa, kemarau yang berkepanjangan, serangan hama kutu kebul, serangan hama trips, penggunaan pestisida yang kurang efektif, sumber air irigasi kering saat kemarau, dan tidak dilakukan pemantauan secara rutin. HOR Fase 2 menghasilkan strategi penanganan risiko prioritas berdasarkan nilai Effectiveness to Difficulty (ETD) tertinggi, seperti melakukan penyemprotan pestisida minimal dua kali dalam seminggu, melakukan penyemprotan pestisida sesuai dengan bahan aktif yang dibutuhkan, melakukan rotasi tanaman, pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan memanfaatkan musuh alami, serta membuat penampungan air di sekitar lahan untuk menampung air hujan.
Kata kunci: cabai rawit, risiko produksi, House of Risk (HOR)
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | S Agriculture > S Agriculture (General) |
| Divisions: | Fakultas Pertanian > Agribisnis |
| Depositing User: | user2 user2 user2 |
| Date Deposited: | 18 Feb 2026 06:18 |
| Last Modified: | 18 Feb 2026 06:18 |
| URI: | https://repositori.unsil.ac.id/id/eprint/6005 |
